just an ordinary girl..
Palestina Berdarah: Kemana Kaum Muslim??
Lagi, serangan berdarah di Palestina terjadi. Hari ini serangan yang dilakukan sejak akhir bulan Desember oleh Israel telah memasuki minggu ke-3 dengan jumlah korban meninggal telah mencapai angka lebih dari seribu serta ribuan lainnya luka-luka! Serangan berdarah ini menimbulkan reaksi keras di berbagai negara tak terkecuali di negeri kita.
Krisis yang terjadi di Gaza ini menarik perhatian beberapa orang di negeri ini dengan menyatakan bahwa masalah di Palestina ini bukan merupakan masalah agama. Benarkah demikian?
Pada Juni tahun 1896 M, datanglah pemimpin Yahudi Internasional,Theodore Herzl ditemani Neolanski kepada Khalifah Abdul Hamid di Konstantinopel. Kedatangan mereka adalah meminta Khalifah memberikan tanah Palestina kepada Yahudi. Tidak tanggung-tanggung, mereka pun memberi iming-iming, “Jika kami berhasil menguasai Palestina, maka kami akan memberi uang kepada Turki (Khilafah Utsmaniah) dalam jumlah yang sangat besar. Kami pun akan memberi hadiah melimpah bagi orang yang menjadi perantara kami. Sebagai balasan juga, kami akan senantiasa bersiap sedia untuk membereskan masalah keuangan Turki”.
Namun, Khalifah Abdul Hamid menentang keras. Beliau menyatakan, “Saya tidak dapat mundur dari tanah suci Palestina ini. Sebab, tanah ini bukan milik saya. Tanah suci ini adalah milik rakyat saya. Nenek moyang kami telah berjuang demi mendapatkan tanah suci ini. Mereka telah menyiraminya dengan tumpahan darah. Cabik-cabiklah dulu tubuh dan raga kami, jika bisa! Ingat, kami tidak akan membiarkan raga kami dicabik-cabik selama hayat masih dikandung badan!” (al-Yahud wa ad-Dawlat al-Utsmaniyah, hal. 116). Beliau pun pernah menyata kan, ”Wahai kaum Muslim, kita tidak dapat meninggalkan al-Quds. Dia adalah kota suci kita. Al-Quds selamanya harus berada di tangan kita.” (al-Utsmaniyyun fi at-Tarikh wa al-Hadharah, hal. 57). Kaum Muslim pun mendukung penuh sikap pemimpin umat Islam tersebut.
Kesungguhan sang Khalifah itu ditunjukkan pula dalam Maklumat yang dikeluarkannya pada tahun 1890 M: ”Wajib bagi semua menteri untuk melakukan studi beragam serta wajib mengambil keputusan yang serius dan tegas dalam masalah Yahudi tersebut” (as-Sulthan Abdul Hamid II, hal. 88). Ketegasan Khalifah menjadikan Herzl tak berdaya menghadapinya. Dia pun menyampaikan, ”Sesungguhnya saya kehilangan harapan untuk bisa merealisasikan keinginan orang-orang Yahudi di Palestina. Sesungguhnya orang-orang Yahudi tidak akan pernah bisa masuk kedalam tanah yang dijanjikan selama Sultan Abdul Hamid II masih tetap berkuasa dan duduk di atas kursinya” (al-Yahud wa ad-Dawlat al-Utsmaniyah, hal. 158).
Begitulah yang terjadi hingga Kekhilafahan Utsmani runtuh,Israel bisa mewujudkan mimpinya mendapatkan Palestina melalui berbagai perang dan perjanjian yang penuh intrik. Jauh sebelum itu, empat belas abad yang lampau, Rasulullah SAW telah bersabda bahwa kaum Muslim itu bersaudara ibarat satu tubuh, ketika ada bagian tubuh yang sakit maka bagian tubuh yang lain pun akan merasakannya. Ikatan aqidah inilah yang mempersatukan kaum Muslim meski berjauhan letaknya dan tidak saling mengenal.
Namun, fakta yang terjadi saat ini adalah sebaliknya.Negara-negara tetangga Palestina malah menunjukkan sikap diam bahkan malah melanggengkan pembantaian terhadap warga Palestina dengan tidak membuka pintu perbatasan untuk masuknya berbagai bantuan.Akan tetapi, Presiden Venezuela yang berbeda akidah dan jaraknya ribuan mil dari Palestina, secara tegas mengusir duta besar Israel dari negaranya sebagai bentuk penolakan agresi israel. Namun, kaum muslim tidak bisa berbuat tegas. Mereka hanya bisa mengecam di negara masing-masing tanpa satu aksi nyata menghentikan agresi. . Kaum Muslim sekarang ini terbelenggu dengan batas-batas teritorial, dimana Muslim yang satu tidak bisa membantu Muslim lain karena adanya birokrasi negara bangsa .
Mengapa Palestina begitu penting? Palestina merupakan satu negeri Kaum Muslim dimana terdapat Kota Suci Yerrusalem tempat berdirinya Masjidil Aqsha, yang juga merupakan kiblat pertama. Masjid ini menjadi saksi peristiwa Isra’ yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Jelas sudah, maka tidak ada diskusi lagi mengenai apakah Palestina termasuk masalah agama atau bukan. Pernyataan masalah Palestina bukan merupakan masalah agama, tidak lain merupakan akibat sekulerisme yang juga menjadi biang keladi berbagai permasalahan yang melanda kaum Muslim. Paham ini juga yang membuat kesatuan kaum Muslimin dahulu dalam satu Insituti Khilafah,dalam satu komando, menjadi pecah ke dalam negara-negara kecil yang lemah.
Selama tidak ada satu komando yang mempersatukan kaum Muslim maka masalah Palestina dan masalah kaum Muslim di belahan dunia manapun, tidak akan kunjung selesai. Sungguh umat merindukan sikap tegas Khalifah Abdul Hamid dalam mempertahankan wilayahnya, sikap tegas yang terintegrasi dengan kesatuan kaum Muslim di dalam wadah Daulah Khilafah yang berdasarkan manhaj nubuwwah (metode kenabian).
Wallahu’alam bishawwab.
11 Januari 2009
